Hari Gizi Nasional dan Persoalan Gizi di Indonesia

  • 2017-01-25
  • Author : Monica Arti Wijaya
  • Views : 529
foto : obi

Setiap tahunnya, hari gizi nasional diperingati pada tanggal 25 Januari. Hari ini menjadi pengingat bagi setiap lapisan masyarakat di Indonesia tentang sudah sejauh mana tingkat status gizi masyarakat Indonesia telah tercapai; apakah persoalan gizi buruk di Indonesia telah selesai diatasi?

 

Apa itu zero hunger?

Zero Hunger merupakan poin kedua dari SDGs (Sustainable Development Goals) dengan tujuan mengakhiri kelaparan dan malnutrisi pada tahun 2030. FAO (Food and Agriculture Organization) menetapkan 5 pilar dalam mencapai program Zero Hunger, yakni nol anak penderita stunting dengan usia kurang dari 2 tahun, 100% akses makanan yang cukup sepanjang tahun, sistem pangan yang berkelanjutan, 100% peningkatan produktivitas dan penghasilan petani pinggiran, nol kehilangan dan limbah pangan.

Dalam tantangan “Zero Hunger” tersebut, Indonesia telah melakukan berbagai upaya dengan meningkatkan ketahanan pangan, status gizi masyarakat dan promosi pertanian yang berkelanjutan. Meski begitu, strategi yang dilakukan tidak serta merta menghapuskan angka kelaparan di Indonesia. Menurut data FAO, 19,4 juta penduduk Indonesia pada tahun 2016 masih mengalami kelaparan.

 

8 Juta Anak Indonesia Alami Gizi Kurang

Menurut Kementerian Kesehatan tahun 2013, anak dengan gizi kurang di Indonesia menjapai 8 juta anak. Pada 2015 tercatat 29 % balita di Indonesia masuk dalam kategori stunting. Menurut WHO, prevalensi balita pendek menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensinya mencapai 20 % atau lebih. WHO menyebutkan, kekurangan gizi berkontribusi terhadap kematian satu dari tiga anak di dunia.

Dokter umum dari Obor Berkat Indonesia, dr Anna Silalahi mengungkapkan bahwa kekurangan gizi akan membuat anak rentan terhadap berbagai infeksi penyakit, terganggunya perkembangan dan fungsi organ tubuh serta terganggunya fungsi kognitif anak. Pada tahap kekurangan gizi yang kronis, anak berpotensi besar mengalami stunting. Masalah stunting tidak dapat dianggap sepele, sebab pada jangka panjang penderita stunting akan mudah mengalami penyakit diabetes, jantung koroner, hipertensi dan lain-lain.

 

Solusi Gizi Bagi Anak

“Terjadinya malnutrisi anak disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya pengetahuan orang tua tentang gizi makanan serta pengolahannya, lemahnya ekonomi, kurangnya kebersihan lingkungan dan jarak kelahiran anak yang tidak terencana,” ungkap dr Anna Silalahi.

Dalam buku Facts for Life yang diterbitkan oleh WHO, setiap anggota keluarga perlu menjamin nutrisi lengkap saat seorang ibu mengandung, sehingga nantinya dapat memberikan ASI eksklusif untuk anak. Disamping itu perlu peran dari seluruh elemen masyarakat dalam mengurangi angka gizi kurang dan gizi buruk di Indonesia melalui berbagai cara efektif seperti halnya penyuluhan kesehatan dan Gizi.

 

Dalam hal ini, Obor Berkat Indonesia sangat menyadari bahwa masih ada banyak anak di Indonesia yang mengalami gizi kurang, salahsatunya di Pulau Nias. Di Pulau Nias, tak sedikit anak yang mengalami masalah gizi, masalah tersebut kemudian menjadi sangat kompleks karena faktor kurangnya pengetahuan keluarga seputar gizi, kurangnya lapangan kerja, keterbatasan akses di pelosok dan gaya hidup yang kurang sehat.

Sejak tahun 2006, Obor Berkat Indonesia masih terus melanjutkan langkah untuk menolong anak-anak yang menderita gizi buruk dan kurang gizi di Nias. Melalui program PMT (Pemberian Makanan Tambahan) untuk memulihkan gizi para balita, penyuluhan kesehatan dan gizi, pembangunan sanitasi air, pembuatan Taman Gizi Keluarga serta program bantuan Rumah Sehat. Satu tujuan yang ingin dicapai, yaitu mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera demi generasi penerus yang lebih baik.

Share this article :
WEEKLY REPORT
http://www.obi.or.id/patner/donation.html