Melawan Narkoba : Penyuluhan SMP Al-Mutaqin

  • 2017-01-31
  • Author : Monica Arti Wijaya
  • Views : 554
foto : obi

Apa yang terjadi ketika beberapa siswa memasuki sebuah ruang kelas lalu mendapati teman-temannya sedang berdiri diatas kursi tanpa sebab yang jelas? Saat menghadapi situasi tersebut, muncul beragam reaksi yang mungkin dilakukan oleh siswa diantaranya; ikut bergabung dan berdiri di atas kursi, bergabung dan memilih untuk duduk di kursinya, menasehati teman-temannya atau bahkan kebingungan tanpa melakukan apapun.

 

Situasi tersebut merupakan bagian dari teknik konseling penyuluhan Narkoba yang diselenggarakan oleh Obor Berkat Indonesia di SMP Islam Al-Mutaqin pada 26 Januari 2017 yang diikuti oleh 600 siswa. Teknik tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana seorang siswa dapat terpengaruh dengah hal-hal negatif yang tidak sewajarnya dilakukan.

 

“Reaksi anak memang berbeda-beda. Ada yang ikut gabung dan berdiri diatas kursi, ada yang mendekati temannya dan bertanya, ada yang kebingungan dan Cuma berdiri di depan teman-temannya. Memang reaksi ini umum dilakukan saat seorang anak menghadapi situasi atau tawaran tentang hal-hal yang tidak wajar. Sama seperti ketika seorang anak mendapat tawaran memakai narkoba; anak akan menolak dan bahkan yang lebih berbahaya menerima tawaran dengan alasan ikut-ikutan,” ungkap dr Rosari Hutagalung saat diwawancarai disela-sela penyuluhan.

 

Para peserta penyuluhan juga dilatih untuk menerapkan ketegasan mengatakan ‘tidak’ pada narkoba melalui 4 metode efektif yaitu probing,broken records, pointing out consequences, dan change the topic.Probing merupakan metode dengan meminta penjelasan dan bertanya secara berulang-ulang dengan maksud menolak tawaran menggunakan narkoba. Broken records yaitu konsisten untuk mengatakan ‘tidak’ secara berulang-ulang ketika mendapat tawaran obat terlarang. Pointing out consequences yaitu meminta penjelasan akibat dari narkoba jangka pendek maupun jangka panjang. Change topic yaitu menolak tawaran narkoba dengan mengalihkan perbincangan.

 

Upi Fikri Firdaus (13) siswa SMP Islam Al-Mutqin mengaku lebih menyukai metode Pointing out consequences untuk menolak ajakan menggunakan narkoba, sebab dengan metode itu ia dapat mengingatkan pelaku tentang dampak negatif narkoba. Sebelum mengikuti penyuluhan, ia juga mengaku belum mengetahui tentang bahaya yang ditimbulkan oleh narkoba. Sama halnya dengan kedua temannya yang bernama Jiun Firmansyah (14) dan Muhammad Alif Fajri Al Rizky (15).

 

“Sebelumnya belum tahu tentang narkoba itu apa dan bahayanya apa. Setelah ikut penyuluhan ini, saya jadi tahu bahayanya, misalnya penggunaan narkoba jarum suntik dapat menyebabkan HIV AIDS, selain itu narkoba jenis lain juga dapat menyebabkan kerusakan otak bahkan kematian,”papar Muhammad Alif Fajri Al Rizky.

 

Kegiatan penyuluhan juga mendapatkan tanggapan positif dari Wakil Kepala Sekolah SMP Al-Mutaqin, Drs. Nur Zabidi. Melalui penjelasannya, Ia meyakini bahwa rokok merupakan jembatan menuju penyalahgunaan narkoba, sehingga sejak dini anak-anak harus diajarkan tentang bahaya rokok dan narkoba yang salahsatunya menyebabkan kecanduan.

 

“Terimakasih dengan penyuluhan bahaya narkoba yang diselenggarakan oleh OBI. Kedepannya kami akan saling bersinergi dengan orang tua siswa untuk lebih mengawasi anak-anak yang saat ini sangat rentan terhadap pengaruh narkoba. Banyaknya kasus narkoba yang terjadi di kalangan anak dan remaja memang tidak boleh dianggap sebagai hal yang sepele,”ungkapnya.

Share this article :
WEEKLY REPORT
http://www.obi.or.id/patner/donation.html