Mengenal Lebih Dalam Tari Maena Siaga Bencana

  • 2017-04-21
  • Author : Yuliana Martha Tresia N
  • Views : 379
foto : obi

Belajar mitigasi bencana melalui tari dan nyanyian, bagaimana caranya? Bersama Obor Berkat Indonesia, JICA (Japan International Cooperation Agency), dan Universitas Wako Jepang, anak-anak dapat belajar mitigasi bencana melalui budaya lokal, sambil menari dan menyanyi. Ya, lewat Tari Maena Siaga Bencana.

 

Awal-Mula Program

Program Tari Maena Siaga Bencana ini berawal dari penelitian desertasi Yoko Takafuji, seorang peneliti dari Universitas Wako Jepang. Berangkat dari banyaknya korban jiwa akibat bencana Tsunami Aceh di tahun 2004 dan Gempa Bumi Nias di tahun 2005, yang angkanya mencapai lebih dari 1.000 orang, jelas bahwa masih kurangnya upaya mitigasi, termasuk pendidikan bencana dalam masyarakat Nias. Karena itu, Yoko Takafuji ingin berbuat sesuatu untuk menolong masyarakat Indonesia lebih siap bencana. Yoko Takafuji memang berkewarga-negaraan Jepang, tetapi beliau besar selama bertahun-tahun di Indonesia. Bagaimanapun, beliau merasa memiliki keterikatan tertentu dengan Indonesia, bahkan merasa bahwa Indonesia adalah negara keduanya.

 

Apa yang terjadi di Nias ternyata sangat berbeda dengan apa yang terjadi di Pulau Simeulue, Naggroe Aceh Darussalam. Korban jiwa disana tidak banyak, ternyata karena adanya kesenian lokal bernama Smong yang secara turun-temurun disosialisasikan dalam masyarakat disana. Kesenian lokal Smong itu seperti nyair lagu yang dinyanyikan sebelum tidur, lahir dari pengalaman bencana tsunami di Simeulue pada tahun 1907. Liriknya kira-kira seperti, “Bila tanah bergerak-gerak (dalam arti, gempa bumi), permukaan laut turun dan air laut surut. Itulah tanda-tanda tsunami. Segera mengungsi ke tempat tinggi.” Kesenian lokal di Simeulue ini, menurut Yoko Takafuji, mirip dengan legenda “Tsunami Tendeko” di Jepang. Legenda ini juga mengandung arti langkah-langkah menyelamatkan diri ketika tsunami terjadi.

 

Yoko Takafuji melihat sangat baik jika hal yang sama bisa diterapkan pula di masyarakat Nias. Mengapa tidak mengedukasi tentang mitigasi bencana melalui pendekatan kesenian dan budaya lokal? Maka, beliau melakukan penelitian lanjutan yang mengaji kira-kira kesenian lokal apa dari masyarakat Nias yang bisa menjadi media edukasi bencana. Melalui penelitian tersebut, didapatilah salah satu tari tradisional masyarakat Nias, bernama Tari Maena.

 

Tari Maena merupakan salah satu tari tradisional masyarakat Nias yang sangat dikenal oleh berbagai kelompok usia. Tarian ini berciri khas pada paduan gerak tari & syair yang harmonis—sehingga sering digunakan sebagai media sosialisasi pesan. Tari Maena sering ditampilkan dalam pesta-pesta adat di Nias. Itulah mengapa Tari Maena dianggap cocok untuk diintegrasikan dengan edukasi bencana.

 

Penelitian Yoko Takafuji pun dicoba dipraktikkan dalam langkah nyata, yaitu dengan digagasnya Program Tari Maena Siaga Bencana. Program ini terlaksana dalam kemitraan Obor Berkat Indonesia dengan JICA (Japan International Cooperation Agency) dan Universitas Wako Jepang. Program inipun didukung penuh oleh Dinas Pendidikan, BPBD, dan pemerintahan setempat.

 

Bagaimana Mengedukasi Bencana Dengan Tari Maena Siaga Bencana?

Program Tari Maena Siaga Bencana ini ditujukan untuk anak-anak SD (Sekolah Dasar) sebagai generasi muda penerus Nias yang lebih mudah menyerap sosialisasi kebencanaan. Saat ini, program akan dijalankan dalam dua periode dan difokuskan di dua kabupaten/kotamadya di Nias. Periode I akan dimulai di 6 Sekolah Dasar (SD) di Gunungsitoli dari September 2016 – Agustus 2017, sedangkan Periode II akan dimulai di 6 Sekolah Dasar (SD) di Nias Selatan pada September 2017 – Agustus 2018. Ke-12 sekolah akan menjadi sekolah percontohan, yang pemilihannya didasarkan pada pertimbangan bahwa sekolah-sekolah ini terletak di daerah rawan bencana dan memiliki konstruksi bangunan yang juga rawan bencana.

 

Dalam setiap periode bagi ke-6 sekolah di kabupaten/kotamadya masing-masing akan diadakan tujuh rangkaian workshop kebencanaan. Workshop ini melibatkan baik guru, perwakilan orang tua, dan para siswa. Dalam rangkaian workshop tersebut, ada sosialisasi mengenai kebencanaan, penyebaran angket pra dan post untuk perencanaan dan evaluasi, sampai membantu sekolah menyusun Sistem Sekolah Siaga Bencana. Di dalam workshop, para siswa juga diajak untuk brainstorming menyusun kalimat siaga bencana gempa dan tsunami, yang kemudian akan disusun orang tua dan guru menjadi lirik syair Tari Maena Siaga Bencana.

 

Acara puncak adalah Lomba Tari Maena Siaga Bencana yang mempertemukan keenam sekolah percontohan, yang digelar di Aula Laverna, Gunungsitoli, pada 27 Maret 2017. Dalam lomba ini, para siswa akan mempertunjukkan kreasi Tari Maena Siaga Bencana sekolah masing-masing. Sebagai apresiasi, keenam sekolah mendapat piala penghargaan dan dana pembinaan sebesar Rp 500.000. Namun, tak hanya selesai pada Lomba Tari Maena Siaga Bencana, program inipun bertujuan untuk perubahan berkelanjutan.

 

Tari Maena Siaga Bencana Dalam Kurikulum: Demi Keberlanjutan

Tujuan program ini adalah untuk melahirkan satu bentuk pendidikan bencana yang membudaya dengan pendekatan kesenian lokal. Karena itu, keberlanjutan menjadi hal yang sangat diharapkan. Itulah mengapa Tari Maena Siaga Bencana diharapkan dan direncanakan dapat masuk ke dalam kurikulum lokal di Nias. Dengan proses integrasi ini ke dalam kurikulum, Tari Maena Siaga Bencana diharapkan terus dapat diajarkan kepada anak-anak Nias.

 

Saat ini, rencana ini sedang diproses oleh Dinas Pendidikan Gunungsitoli, Nias. Oleh Tim Penyusun Bahan Ajar Muatan Lokal Tingkat SD, rencana ini sedang dibahas dan didiskusikan dengan melibatkan banyak pihak—termasuk Obor Berkat Indonesia, JICA, dan Universitas Wako Jepang. Obor Berkat Indonesia, JICA, dan Universitas Wako akan mengeluarkan buku penuntun khusus terkait proses integrasi kurikulum ini. Buku penuntun inipun sedang dalam tahap penyusunan yang akan berlangsung pada Mei-Juli 2017, dengan berorientasi kepada kegiatan program Tari Maena Siaga Bencana yang sudah dilakukan sebelumnya di Gunungsitoli, Nias.

Share this article :
WEEKLY REPORT
http://www.obi.or.id/patner/donation.html