Melawan Wabah Difteri

  • 2018-01-04
  • Author : Monica Arti Wijaya
  • Views : 111
Designed by peoplecreations / Freepik

Seiring menguatnya anti-imunisasi, wabah difteri kini dilaporkan telah mewabah hingga 20 Provinsi. Jika dilihat melalui data cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi di Indonesia, partisipasi imunisasi kian mengalami penurunan. Pada 2012 mencapai 93,3 persen, kemudian menurun pada tahun 2013 menjadi 86,6 persen, hingga di tahun 2015 sebanyak 86,5 persen.

 

Difteri, kini telah ditetapkan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa). Hingga kini, total kasus difteri Januari-November 2017, terdapat 590 laporan kasus difteri yang tersebar di 20 Provinsi. Sebelumnya, di tahun 2016 data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2016 terdapat 415 kasus dengan jumlah meninggal sebanyak 24 kasus.

 

Difteri marupakan infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Pada kasus tertentu juga mempengaruhi kulit. Wabah ini sangat menular dan mengancam jiwa penderitanya, sedangkan penyebaran wabah yang semakin meningkat diduga karena berkurangnya partisipasi imunisasi.

 

Gejala awal difteri dideteksi dengan demam, menurunnya nafsu makan, lesu, nyeri saat menelan dan nyeri pada tenggorokan. Indikasi lain dapat ditandai dengan lendir hidung yang berwarna kuning kehijauan yang terkadang disertai darah, selaput putih kabuan di tenggorokan atau hidung, pembengkakan leher/ bull neck.

 

Dalam pencegahannya diperlukan imunisasi DPT/DT/Td pada anak. Bayi berusia kurang dari 1 tahun perlu mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT), lalu pada anak berusia 1-5 tahun harus mendapatkan pengulangan imunisasi sebanyak 2 kali. Sedangkan bagi anak usia Sekolah Dasar, perlu dilakukan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak (BIAS). Terakhir, imunisasi dilakukan setiap 10 tahun termasuk orang dewasa.

 

Bagi penderita difteri, perlu dirawat dalam ruang isolasi selama kurang lebih 7-10 hari. fasilitas kesehatan yang menerima pasien difteri juga perlu memiliki ruang isolasi sendiri atau minimal kamar yang terpisah. Kunjungan pasien juga perlu diminimalkan guna menghindari penularan. Satu bulan kemudian, pasien akan divaksin ulang agar kekebalan tubuh terjaga.

Share this article :
WEEKLY REPORT
http://www.obi.or.id/patner/donation.html